Selasa, 27 Mei 2014

Berbahagialah



 
here

Tanganmu bergelayut lemas dilenganku. Dan tanganmu yang satunya tetap memegang sebuah buku yang baru saja kita beli, lebih tepatnya kamu yang memilih. Seperti biasanya kamu memilih buku-buku yang bertemakan kisah-kisah percintaan atau percakapan monolog yang sekali membacanya kamu bisa ikut larut dalam emosi si pembuat cerita itu. Dan kepalamu bersandar dibahuku. Kamu sibuk membaca dan aku sibuk memperhatikan ekspresimu. Kamu tidak menyadari hal itu, itu kebiasaanmu ketika kamu sudah larut dengan sebuah buku kamu bahkan tidak mempedulikan apa yang terjadi disekitarmu. Seolah-olah kamu terhipnotis oleh setiap kata dan emosi yang dibubuhkan oleh si pembuat cerita. Tapi aku tidak mempermasalahkan hal itu, aku tetap menyukaimu. 

Seperti biasa setiap sore kamu selalu memintaku datang untuk menemanimu disebuah cafe yang telah bertahun-tahun menjadi favoritmu. Dan disudut cafe itulah kita duduk berdua sambil memesan dua cangkir cokelat panas yang selalu menjadi favorit minumanmu. Sekali lagi aku tidak mempermasalahkannya. Kapanpun kamu memintaku untuk datang aku selalu bersedia. Kamu bercerita panjang lebar tentang teman sekantormu yang belakangan ini suka menawarimu seorang lelaki yang telah memiliki kehidupan yang mapan. Katamu dia coba untuk mencomblangimu. Aku menyimak dan sekali lagi memperhatikan detail senyum dan tawamu ketika kamu menimpali setiap perbincangan bersama temanmu itu. Memangnya dia barang yang kamu tawari ke aku seperti ini, ujarmu. Lalu akupun ikut tertawa. Kenapa kamu tidak menyuruhnya datang saja sendiri untuk menemuimu, lanjutku. Kamu diam sesaat sambil menenggak beberapa teguk cokelat panas itu. Lalu kamu tersenyum melihatku, apa kamu nanti tidak cemburu? Cemburu....??? Ujarku. Aku tertawa terbahak-bahak seolah-olah merasa geli mendengar kata itu didengungkan.  Kamu tertawa, kita tertawa lepas. Apa salahnya kamu mencoba memberinya kesempatan, kataku. Kamu kembali terdiam dan menatap mataku dalam-dalam. Sontak aku terkejut kamu bersikap seperti itu. Aku tidak apa-apa mencoba, memecah kediamanmu itu. Baiklah terdengar lenguhan napas panjang keluar dari mulutmu. Aku membaca gelagatmu. Apa ada yang salah dengan ucapanku?? Tidak, jawabmu. 

Setelah sore itu aku dan kamu hampir tidak pernah lagi memiliki waktu luang untuk bertemu. Dikantorku intensitas kesibukan meningkat sehingga memaksaku untuk lembur dan pulang pagi. Waktu liburpun tak sempat untuk aku nikmati. Kamupun begitu. Kita hanya berbagi kabar melalui sms-sms singkat. Aku bersyukur kamu baik-baik saja. Dan kamupun selalu kembali mengingatkanku. 

Tibalah waktu dimana kamu memintaku untuk menemanimu lagi. Hei, apa bisa sore ini kamu menemuiku ditempat biasa? Pesan singkatmu. Aku tersenyum membacanya. Akhirnya kesempatan untuk melihat senyummu datang lagi. Dengan cepat aku membalasnya, I'll be there. Tepat pukul 16.15 WIB aku tiba dicafe itu, seperti biasa kamu sudah duduk disudut sambil menikmati secangkir cokelat panas dan sebuah buku. Kali ini senyummu sumringah sekali. Benar saja, ada kabar bahagia yang ingin kamu ceritakan. Dia, lelaki yang ditawari oleh temanmu itu kini melamarmu. Memintamu untuk menjadi teman hidupnya. Sontak ketawaku tertahan dan senyumku menjadi kaku. Ada perasaan aneh yang tiba-tiba mendobrak didalam dadaku. Cemburu, patah hati? Mungkin saja. Aaah ternyata kamu benar. Kini aku mempermasalahkannya, kabar ini, suasana ini.

Aku gagal dalam memahami perasaanku sendiri. Aku juga gagal memahami setiap gerikmu yang memberi pertanda bahwa pintu hatimu telah lama terbuka untukku.

Sejam menjelang prosesi tersakeral hidupmu, aku datang menemuimu. Kamu terlihat lebih anggun mengenakan baju pengantin itu. Senyummu masih seperti biasa yang aku selalu aku lihat. Namun ada yang lain, matamu berkaca-kaca memandangku. Aku telah lama menunggumu untuk berani seperti dia. Tapi kupikir kamu biasa saja terhadapku. Ujarmu. Akupun merasakan pipiku basah karena sesal didada ini seakan mendobrak habis tulang-tulang didadaku. Maafkan aku, ujarku sambil memelukmu. Sebelum melepaskanmu pergi bersama lelaki yang beruntung itu. Tenang saja aku akan seperti biasa jika kamu meminta aku bersedia. Berbahagialah kamu bersamanya. Doakan aku untuk menemukan seseorang sepertimu, pintaku. Kamu mengangguk dan mengusap air mata dipipimu.

Mereka yang melihat kita berdua mungkin berpikir ini adalah tangisan dua sahabat yang merasa haru melihat sahabatnya berbahagia. Tapi kita tidak. Ini perpisahan yang paling mengiris-ngiris pedih di hatiku. Menyisakan lubang teramat dalam. 

Selamat menempuh hidup baru perempuanku. 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar