Sabtu, 30 Juni 2012

Masih Dalam Ingatan

Kamu masih ingat tidak, ketika aku menceritakan sebuah pulau yang pernah aku singgahi itu. Ya pulau kecil yang sangat indah itu. Kamu memuji keindahannya. Terlebih ketika kamu melihat sebuah dermaga yang membentang di salah satu koleksi foto-fotoku itu. Terlihat senja yang menawan. Air laut pasang yang sungguh memberikan ketenangan bersama birunya. Tentang suara ombak yang aku ceritakan ke kamu.

Senja itu adalah senja yang sangat sempurna yang pernah aku lalui. Namun sayang, aku tidak melewatinya bersamamu. Tapi sungguh dapat menceritakan detail perjalananku itu sungguh menyenangkan, terlebih cerita itu berbagi denganmu. Senja, pasir putih, ombak, langit biru, malam, bintang, bulan, komet, sampai fajar membentang. Aku masih terjaga. Sengaja aku duduk di dermaga itu, untuk mengingatmu yang jauh di sana. Andai saja kamu ada di sini, pikirku. Pasti kita akan menikmati malam itu bersama, menanti komet jatuh. Melihat bintang, menahan dinginnya angin laut malam.

Malam itu aku memang memilih dermaga itu untuk menjadi temanku. Tempat yang memang mendukung untuk aku menikmati sendiriku. Karena jika aku bersama sendiriku, pasti kamu selalu ada Jo, hadir bersama langit yang bertaburan bintang itu. Aku menikmatinya. Dermaga itu menjadi teman setiaku menanti fajar. Bersama deburan ombak yang menghempas dinding penyanggah dermaga itu. Aku menikmati suaranya, anginnya. Hingga malampun kian menepi. Aku masih bersamamu (diingatanku), kita tetap bercerita meski dalam diam. Aku yakin kamu pasti mendengarnya. Melihat komet yang berulang kali jatuh, indah Jo. Bisikku dalam hati. Sambil memejamkan mata seraya (kembali) mengingatmu. 

It was fun, jo. 

Sampai pada satu titik. Di mana aku harus memutuskan sendiri. Ke mana arah yang harus aku temui. Aku meminta kepadamu agar kita sama-sama berhenti untuk saling berbagi. Untuk saling mengisi seperti dulu. Itu adalah ketakutan terbesarku, Jo. Untuk memintamu melupakan aku. Nyatanya kamu menolaknya. Tapi itu harus. Harus aku lakukan. Aku tahu persis apa yang kamu rasa saat itu. Sangat tahu. Mungkin kamu memiliki seribu tanya di kepalamu. Yang tak bisa aku jawab langsung. Waktu yang bisa menjawabnya. Maafkan aku untuk itu, Jo. Untuk hal yang ku tinggal dalam seribu tanya di benakmu. Hari di mana kamu mempertanyakan semuanya, mempertanyakan perubahan yang terjadi.

"Re, gimana kabar kamu?" pesan singkat itu masuk ke inbok-ku. 
"Hai, Jo kabar ku baik. Kamu gimana?" balasku
"Akhir-akhir ini kamu gak pernah kelihatan, kemana aja? Kamu tak seperti biasanya."
"Hehe, keliatan di mana?"lanjutku.

Ya, kita memang tak pernah bertemu selama 4 tahun belakangan ini. Kita bertemu hanya pada ruang ini. Rumah maya ini. Kita sama-sama menatap, tapi tak saling melihat. Kita saling menggenggam, tapi tak saling berpagutan. Seperti itulah aku dan kamu, Jo. Perasaan nyaman yang tumbuh dari 4 tahun lalu, yang membuat aku benar-benar takut untuk kehilangan kamu. 

"Hehe, ya biasanya kamu selalu keliatan di situs ini, dan selalu menghubungiku. Tapi sekarang aku merasakan ada yang berbeda dari kamu." protesmu.

Membaca pesan darimu membuat aku menghelas nafas panjang. Apa yang harus aku katakan pun aku tidak tahu. Lalu kamu melanjutkan pesan itu, "Apa masalah kamu yang dulu sempat kamu ceritakan itu sudah selesai?" tanyamu.

"Belum, Jo. Tidak ada yang berbeda, perasaanmu saja itu, Jo." Imbuhku.

Ya, ternyata hatimu itu peka sekali, Jo. Terhadap apa yang terjadi pada diriku, tepatnya kekacauan yang ada di hatiku. Kamu mengetahuinya. Tapi aku, aku tak tahu berbuat apa. 

"Apa aku boleh mengetahuinya lebih detail, Re?"
"Jo, aku tidak tahu harus memulainya dari mana? Maafkan aku sebelumnya, Jo."
"Jo, bisakah kamu menghapusku dari memori itu? Tolong cuma itu. Ini bukan berarti aku tak menginginkanmu. Tapi aku harus melakukan ini, Jo." pesan itu aku sampaikan kepadamu dengan perasaan yang teramat sangat berat.

Lalu "kenapa Re, kenapa aku harus melakukan itu? Ada apa ini?" tanyamu.
"Aku cuma ingin kamu melakukan itu, Jo" singkatku.
"Ya, tapi apa alasannya aku harus melakukan itu?" lanjutmu.

Aku menangis, Jo. Bisa kamu merasakan kesedihanku seperti biasanya. Feeling  yang kamu punya yang tahu semua keresahan yang aku rasa. Kamu mengetahuinya tanpa aku cerita sedikitpun. Batinmu sangat kuat, Jo. Dan aku pasti akan merindukan perhatianmu itu. Kamu satu-satunya orang yang mampu memahamiku dalam diam. I'll be miss you, Jo. Since that day, when I must let you go. Can you hear me? Scream out on the night, i call you for the last. It's gonna be hard, Jo. I'm so sorry, didn't mean to hurt you. But I must let you go.

"Ada hati yang membutuhkan aku di sini, Jo. Membutuhkan aku lebih." singkatku.
"Tapi kenapa aku harus melakukan itu?"
"Jo, please jangan siksa aku lagi dengan pertanyaan itu. Hatiku bimbang, Jo. Saat ini aku ingin kamu yang melakukannya."

"Kenapa tidak sekalian saja kamu memintaku untuk menganggapmu tidak pernah ada, Re. Anggap kita tidak pernah kenal. Kita tidak pernah berbagi" lanjutmu. Aku memahami semua perasaanmu itu, Jo. Tapi aku sungguh tidak bisa.

Hingga detik ini aku tidak mendapatkan kabar apapun darimu. Aku tahu, ada hati yang terluka dan kecewa karenaku. Tapi sungguh aku sudah jauh lebih terluka dengan melakukan ini kepadamu, Jo. Apa masih bisa aku bercerita denganmu? Terlebih setelah aku membuat jarak ini. Jarak yang tak seharusnya ada. Apa kamu masih ingin mendengarku? Apa masih ada ingatanmu tentangku? Setelah ini, Jo? Kamu tahu? Itu sulit untukku Jo, sungguh. Jo, aku tahu. Mungkin kamu tidak akan pernah hadir lagi untukku. Tapi yakinlah, kamu akan selalu ada (di ingatanku) selamanya. Jo, 

Kamu akan tetap menjadi hujan di duniaku, beserta senja yang menawan untuk aku nikmati keindahannya. Meski tak selalu. Aku yakin tak akan pernah kehilanganmu. Karena hatiku telah bersamamu jauh lebih dulu. (ALWAYS HAVE, ALWAYS WILL). Kenangan yang tak akan pernah lekang, kan selalu tertanam meski kita sama-sama menghilang. Dari hati yang terdalam.



kamu dan hujan


Seperti bumi yang merindukan hujan dalam beberapa waktu di musim kemarau. Kering, seperti itulah adanya hati jika diumpakan seperti bumi yang menahan panasnya matahari yang membuat seisinya sungguh merindukan hujan walau hanya sesaat. Bumi menunggu ketika tetesan-tetesan yang tumpah dari langit itu memecah sunyi, membuat udara semakin sejuk, membiarkan pohon menari untuk beberapa saat. Memberikan kenyamanan, kesejukan, bahkan memberikan kesempatan kepada beberapa orang untuk kembali meneruskan tidurnya dalam dinginnya hujan itu.
Yaa, menunggu hujan. Seperti itu lah aku menunggumu ketika terjadi perpecahan yang tak kuinginkan. Menunggu dalam kurun waktu yang menurutku sungguh-sungguh bisa membuatku mati. Mati dalam kekeringan dan panasnya hatimu saat itu. Aku hanya bisa diam, termenung, menyesali. Hujan malam itu seakan hujan yang terakhir yang kurasa dalam duniaku. Hujan itu pun tak mampu memberikan ketenangan malah sebaliknya.
Hanya mampu menangisi penyesalan kala itu. Dan ketika aku tersadar, waktu itu telah terlewati, musim kemarau itu berlalu diduniaku. Hujan itu kembali, kembali membawa ketenangan, membawa senyuman, membawa kedamaian disini, diduniaku. Seperti kata pepatah “Jika ingin melihat pelangi, maka kamu harus menunggu hujan selesai untuk menikmati keindahannya”. Hujan malam itu memberikan ku kesakitan yang teramat sangat telah berlalu, berganti dengan hujan dimusim baru hatiku. Tak hanya tetesannya yang membuatku nyaman, melainkan bias dari tetesannya itu memperlihatkan keindahan. Hujan itu memberi pelangi, pelangi terindah yang pernah kunikmati dengan inderaku.
Waktu itu kembali, semua kenangan terburuk musnah tersapu karena tetesanmu, Terimakasih telah menyapu hal itu dari gundahku. Kamu menyiraminya dan membasuh semua keluh yang tersisa. Bahkan saat ini semua omongkosong tentangnya hilang, benar-benar hilang. Hujan benar-benar membawa nya pergi, dan membiarkan omongkosong itu terbang terbawa angin dan menghilang tanpa bekas.
Kamu (hujan) tak benar-benar pergi. Kamu (hujan) benar-benar tak meninggalkanku. Aku bahagia bisa menikmati tetesanmu kembali. Walau hujan itu turun kebumi tidak hanya untukku melainkan untuk semua umat dimuka bumi ini, memberikan ketenangan, kesejukan. Walau tak pelak ada yang membenci hujan. Hujan itu tidak egois, seperti kamu. Apa kamu (hujan) tahu? Bahwasanya aku selalu menunggu tetesanmu itu menyentuh bumi. Menyentuh bulir-bulir kegelisahan yang masih tertanam didasar hati.Setidaknya kamu mampu menyapu bersih sedikit demi sedikit kegelisahan itu.
Terkenang ketika emosi itu menyeruak kepermukaan ketika aku memohon kepadamu “tolong, (hujan) jangan pergi…” Lantas kamu menjawab “tidak… aku tidak pergi. Hanya saja…. Hanya saja aku akan menghilangkan sedikit demi sedikit memori tentangmu.” Hujan apa kamu tahu? Kata-kata mu itu bagaikan suara gemuruh yang mengguncang hati. Aku terhenyak, larut dalam lamunan. Mencoba mengingat kembali apa yang telah aku lakukan beberapa waktu belakangan ini. Dan tersadar aku salah. Aku bodoh, hanyut dalam omongkosong yang aku bangun sendiri kala itu. Bagai terhipnotis dikegelapan. Sudah gelap, tak tahu mau berpegang kemana. Hujanmu saat itu memang mengering, tetesannya bahkan tak terlihat lagi. Kamu meninggalkanku sendiri, memang betul-betul sendiri.
Aku berharap tetesanmu kala itu mampu menghapus garis yang melingkar itu, setidaknya memudarkannya sehingga aku dapat menembusnya. Dan berhasil keluar. Tapi kenyataannya, TIDAK. Kamu memberikan pelajaran tentang ketegasan. Ketegasan dari setiap tetesanmu itu. Ya, tetesanmu mempertegas bahwa kamu ada untuk memberikan kenyamanan, memberikan kesejukan untuk seluruh isi bumi. Bahkan dalam marahmu sekalipun, tetap memberikan ketegasan kepada umat manusia. Memberikan pelajaran tentang pentingnya menjaga lingkungan. Ya lingkungan itu aku umpamakan hati. Hati yang harus dijaga agar tidak dibanjiri dengan kemarahan. Aku harus menjaganya sendiri untukku.
Aku hanya bisa bergumam “i remember it clearly, I made a big mistake, i'm so sorry just it i don't know what i want to do. Please don't go away. Sekali lagi saat itu kamu (hujan) hanya diam, diam dan diam. Dalam beberapa waktu kamu kembali berbicara ”aku harus bersikap seperti ini, harus..!! ini demi kamu dan untuk kamu. Kamu harus bisa melepaskan semua kenangan itu.
Ya, itu sepenggal kisahku tentang kehilangan sosok kamu (hujan) dalam beberapa saat yang hampir membuatku mati kekeringan diteriknya panas emosi yang menyeruak kala itu. Semua musnah ketika sapaan hangatmu kembali hadir dipenghujung februari. Tetesannya kembali terasa, tetesannya kembali menyejukkan, tetesannya kembali membawa rasa bahagia disini. Walau aku dan kamu (hujan) harus memulai nya dari awal lagi. Tapi tidak mengapa, dengan kembali nya hujan setidaknya duniaku tidak akan kekeringan. 
Hanya antara kamu dan hujan selalu terselip pelajaran bermakna tentang kasih putih. Hanya antara kamu dan hujan selalu ada rindu disetiap riak yang terbentuk setelah hujan. Hanya antara kamu dan hujan selalu ada pancaran bias pelangi yang engkau ciptakan untukku Hanya antara kamu dan hujan yang selalu hadir dalam setiap waktu aku memikirkanmu meski dalam sendiriku.Dan aku selalu menunggumu (hujan) disetiap musim berganti.

Kamis, 28 Juni 2012

Muara (Tak) Berujung


Membicarakan orang dalam satu paket, yakni sahabat. Apa kamu tahu satu paket itu apa? Setidaknya ini kognitif yang aku bangun untuk mendeskripsikan kamu yang tak semu. Meski terpisah jarak.

Dia tak hanya membawa tawa kedalam harimu. Tapi juga datang bersama rindu, rindu yang kadang kamu tak pernah tahu. Entah itu rindu ingin bertemu, sekedar ingin menyapa atau yang lainnya.

Ada hati yang tanpa sadar menerimanya. Membukakan jalan untuknya, masuk. Bersama rindu yang mulai bersemayam.

Bukan hanya bahagia yang kamu bawa (sekarang), tapi juga bersama kata yang terpatri tanpa janji ia tulus tanpa berkeinginan untuk mengakhiri "SAHABAT". Ya kita saat ini menyebutnya sahabat, apa itu juga akan berlaku nanti?

Jika suatu waktu beralih ingin menjadi lebih.

"Kenapa kita bisa kenal?" aku bertanya kepadamu. Lalu kamu menjawab "Sederhana!" imbuhmu singkat dalam pesan itu. Sejenak aku larut dalam perkataanmu yang singkat itu. Membuat aku berfikir, siapa sosok kamu itu?

Kita bercanda, lalu diam. Hening. Aku merasakan kehilangan dalam jeda itu. Secepat itukah tawa itu berlalu?

Lalu aku kembali menganggumu dengan tanya tiap waktu. Tak peduli itu akan mengusikmu, yang aku tahu aku hanya ingin begitu.

Maaf jika kamu tidak menyukai sikapku ini. Yang katamu aku ini aneh. Belum sampai seminggu kenal kamu, tapi aku sudah merasa nyaman berbagi cerita denganmu. Mungkin ini maksud artian "Sederhana" darimu. Dan aku memahaminya.

Lebih tepatnya menikmati. Maaf jika aku salah arti. Itu yang kurasa setidaknya saat ini.

"Ada rasa takut tentunya yang juga menghantui, terlebih jika kita (nanti) terjebak pada suatu muara yang tidak berujung." Ujarmu singkat, padat dan jelas.

Seperti biasa, lalu dengan candaan aku menyambung ucapanmu itu, "Gak mungkin, kita kan jauh.".

"Katanya nyaman itu sederhana!" sergahmu.  "Jauh? Itu lebih menakutkan lagi."

"Kenapa?" tanyaku.

"Suatu saat kamu akan mengerti, bahwa kehilangan itu nyata. Dan yang nyata itu akan hilang. Kehilangan itu gak akan pernah tahu kapan datangnya."

"Jangan ngomongin tentang kehilangan!" sergahku.

Lalu kamu kembali bicara "Suatu saat kamu akan tahu dan berada pada suatu waktu, tanpa sadar tahu-tahu kehilangan."
"Sahabat itu gak akan hilang." sergahku. Dan tidak tahu mengapa, membaca pesan singkat itu ada perasaan yang benar-benar aku takuti, karenamu.

"Oke, tetap pada zona sahabat ya. Tidak boleh lebih!" katamu. Aku tersenyum membaca itu.

"Tapi, kalau nanti........." aku tercekat tak ingin melanjuti.

"Apa?" sambungmu singkat.

"Gak,.. Gak!" upayaku untuk mengalihkan pembicaraan.

"Bicarakan dari sekarang, biar dicari solusi. Agar nanti kita tidak menyesalinya." kamu melanjuti.

"Seperti yang kamu bilang diawal. Terjebak dalam muara yang gak berujung." lanjutku.

"Jujur hati!, itu lebih bijak. Gak ada yang tahu kapan rasa itu singgah dan kapan pergi. Iya kan?" ucapmu.

"Iya, tapi aku takut jika suatu saat aku yang merasakannya lebih dulu." celahku.

"Gak apa, seperti yang kamu bilang, rasa itu anugerah. Jadi nggak akan ada yang salah. Mungkin saja, kitalah yang kurang belajar memahaminya. Dan mudah-mudahan jika itu memang terjadi, gak ada hati yang akan tersakiti." Kamu memberi jawaban yang menenangkan hati.

"Begitu cepat kita membicarakan hal ini". Lanjutku.

"Harus, belajar mendewasakan perasaan, hahaha.." terangmu.

Entah dari mana ini bermulai. Kita tak pernah bertemu. Lebih tepatnya belum genap seminggu obrolan ini. Obrolan yang hanya sebatas dinding maya. Yang tak pernah bersuara, tapi iramanya seolah dekat. Dan ada rasa nyaman yang kudapat ketika aku berbagi denganmu. Nyaman, itu sudah cukup untuk mewakili itu semua. Maaf jika aku selalu hadir dalam waktu yang tidak kamu inginkan.