Kamis, 21 Juni 2012

Selamat datang, Kamu.


pict from here

Hei kamu...

Iya kamu, kamu yang saat ini leluasa bermain difikiranku. Masih betah berlama disana, hingga aku tertidur pulas. Dan ketika aku terjaga kamu ternyata masih disana. Ya masih bersama senyuman itu.

Aku lupa kapan aku mengizinkan kamu masuk kesana. Dengan leluasanya menari indah dengan waktuku tiada henti. Kali ini kamu selalu muncul dengan hal yang sama, tak peduli kapanpun itu.
Dan hari ini kamu hadir kembali. Mengetuk masuk lalu tersenyum (lagi). Ahh senyuman itu benar-benar mampu membuatku kaku. Tapi aku suka kamu melakukan itu. Bisa kamu melakukannya untukku setiap waktu? Tentunya tanpa aku minta sekalipun.

Aku suka melihatmu bersama gitar itu. Aku ingat pertama kali mengenalmu karena kamu memainkan gitar itu pada suatu waktu dicafe itu. Ya waktu membawa kita untuk saling mengenal. Hingga saat ini.

Berlebihankah jika aku menyukai senyuman yang terbingkai diraut wajahmu itu?

Aku (masih) betah berlama-lama menatapmu pada dimensi ini. Ya dimensi yang tak pernah bisa kamu jangkau sebelum aku mengizinkannya. Tapi kenyataannya kamu berhasil menerobos dimensi itu. Seakan-akan kamu telah lama tinggal disini. Gaya tertawamu itu mampu memberikan semangat pagi, meski mentari tak bersinar terang pada hari. Lihat kamu masih berdiri.

Selamat datang, kamu.


Senin, 18 Juni 2012

Getar yang tak Tersirat

cerita sebelum nya :

Part 1 :

Part 2 :

Part 3 :

Silahkan dinikmati :D

***
Sepertinya kita selalu memiliki kisah pada senja. Apa mungkin senja memang mengaturnya untuk kita, Amuri? Aku membatin. Sembari melihatmu, menangkap siluet senyummu yang membingkai indah menambah kesempurnaan senja.

Ada kata yang tak sempat kamu utarakan ketika itu, tapi aku tahu maksud yang tersirat di matamu itu, sayang. Aku tahu, sambil mendekap erat tubuhmu.

Amuri, I love You… kembali matamu itu menatapku, dan berujar I love you too, lalu kembali mendekap erat aku seolah-olah kamu tidak akan pernah melepaskan pelukan itu, Amuri. Lihat senja ini, begitu sempurna, katamu. Ya sangat sempurna sayang, apalagi ada kamu di sini bersamaku. Aku menikmatinya, seraya melirik kearahmu yang tak henti melihat kearah air laut yang berwarna jingga berkilau.

Tentang keinginan untuk bersama itu, ternyata kamu menyambutnya. Setidaknya sedikit bisa menenangkan aku saat ini. Tapi aku masih tidak tahu masih ada rasa yang membelenggu disini. Semoga saja kamu tidak menangkapnya.

Yang aku tahu saat ini aku bahagia memiliki waktu bersamamu, yang aku tahu saat ini senja selalu berirama menyambut cerita, yang aku tahu kita menemukan ruang untuk bersama, yang aku tahu aku bahagia, bahagia ku itu KAMU.

Sambil mengecup keningmu, lalu kamu tersenyum.

***
Dalam perjalanan pulang aku bertemu Anggara.

Hai bro, apa kabar? Sahutnya

Sambil menjabat tangannya, fine, dude. Lalu kita berjalan keara cafĂ© yang biasa aku singgahi bersama kamu “BUMI”. Ahh entah kenapa kali ini ada sepintas getar yang tersirat.

Lihat, dia tersenyum menceritakan kamu, Airin. Decakku dalam hati.

Sepertinya kamu menemukan seseorang yang akan mengisi ruang dihatimu. Aku kenal baik dia, aku yakin kamu akan selalu tersenyum bersamanya.

Dia mencari tahu semua tentang mu, dari aku. Antusias itu tergambar dari raut wajahnya. Sosok lelaki yang aku kenal dengan sikap dingin yang ia miliki terhadap wanita. Kini ia bertransformasi menjadi sosok yang hangat, apa lagi ketika menyebut namamu.

Sosok lelaki yang pernah aku perkenalkan ke kamu waktu itu. Ya saat ini dia menemuiku. Menggali semua informasi tentangmu. Dan tanpa sengaja memori itu terbuka kembali. Cerita bersama senja di bangku taman, mengukir kata “BUMI”, semuanya. Semuanya hadir ketika aku berbagi tentangmu bersama nya.

Apa aku harus membagi semua itu, kepada nya? Kepadanya yang juga sahabat ku.Tapi kenapa hati ini sedikit menolak untuk berbagi?

Mentari, dia bertanya banyak tentangmu kepada ku. Haruskah aku menjawab semua nya?
Zie, menurut kamu Airin itu cewek yang gimana? Ungkap Anggara

Sontak aku terkejut mendengar pertanyaan itu dari nya. Untuk menutupi nya “hahhaha, dia anak baik”. Imbuh ku singkat.

“Aku tahu kalau dia anak baik-baik, tapi menurut kamu dia tipe cewek yang bagaimana? Kamu kan sahabat nya. Pasti lebih tahu. Bantu aku untuk mendekatinya.” Sergah Anggara sambil meninju kecil bahu ku.

Mendengar itu ada sedikit sengatan disini (rongga dada). Kamu tahu mentariku, beberapa detik setelah mendengar nya aku tertegun.

“ heei, kenapa bengong? Bisa gak?” ucap nya

“eehh, kenapa? Sorry, sorry aku gak fokus” lanjut ku mencoba menyembunyikan hal itu. Tahu kah kamu ini mentariku. Ada sosok lain yang mendamba mu di sini. Tapi kenapa ada hati yang sedikit terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan itu.

“Ariani… dia suka dengan hal-hal yang sederhana.” Itu aku tahu.

“Bisa beritahu aku lagi, hal sederhana apa yang dia suka?” Anggara melanjutkan pertanyaan nya ke aku.

“Sorry, dude. Aku lupa malam ini aku ada janji dengan Amuri. Aku harus buru-buru. Bye, take care”. Aku meninggalkan dia dalam keadaan penuh tanya tentang mu, mentari. Maaf kali ini aku tak ingin berbagi hal itu pada siapa pun. Bukan maksud hati untuk menutup jalan dan celah yang telah kamu buka kan untuk nya. Hanya saja aku tak ingin membagi nya. Berlebihan kah???

“Melangkahkan kaki pada jalan setapak, hanya derap langkah kaki ku yang terdengar. Sekilas menangkap bayangan yang berjalan seiring dengan ku. Ternyata itu kamu, mentari yang berada pada ujung jingga di langitku. Bersiap meninggalkan lembayung senja dan berpasrah pada malam yang menggantikan nya.”





Rabu, 13 Juni 2012

just


Kembali rasa ini diuji, ketika aku benar-benar merasakannya. Ketika aku benar yakin bahwa tempatmu dihatiku memang terletak direlung hati paling dasar. Kamu tahu, tempat itu tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun. Malam ini aku gak tahu mau berbagi dengan siapa,. Aku ingin kamu bahwa aku BENAR-BENAR MENYAYANGIMU… selalu sampai detik ini.
Aku ingin ada yang mempercayaiku, bahwa sayang ini memang ada. Meski waktu belum mengizinkan, setidaknya aku mau menunggu waktu itu. Karena aku yakin alam sudah mengaturnya untuk kita. Dan aku tak terburu-buru untuk waktu itu. 

Tak terasa mataku berembun, dan aku baru sadar aku menangis, ketika kamu mengatakan “aku gak tahu kenapa… gimana membalas rasa yang kamu ungkapkan ke aku, dan aku gak tahu mau ngelakuin apa…”  air mata itu terus mengalir, berharap ada kamu yang akan menghapuskannya untuku. Namun kamu hanya diam, kamu tak melihat air mata ini. Aku rindu kamu malam ini, rindu yang lebih besar adanya dari semua waktu yang aku miliki.

Selalu rindu ini yang menemaniku, selalu rindu ini yang mengingatkanku padamu, selalu rindu ini yang membawamu hadir disetiap langkahku. Selalu rindu ini, selalu dan selalu rindu ini.
Mungkin bukan sekarang aku memilikimu, mungkin juga bukan sekarang aku bersamamu, tapi aku yakin pasti nanti ada waktunya untukku dan kamu. Pasti ada nantinya waktu yang Tuhan beri untuk KITA, walau itu entah kapan. Andai saja kamu benar-benar ada dihadapku malam ini… aku akan menggenggam tanganmu. 

Cinta dapatkah kamu merasakannya? Cinta dapatkah kamu merasakan rindu ini?? Cinta dapatkah kamu mendengarku? Cinta sisakan sedikit ruang dihatimu untukku, cinta aku ingin selalu untuk mendengarmu, selalu… dan selamanya.