Minggu, 30 Desember 2012

Menikmati karena "kamu"


1.     
Dengan diampun aku masih bisa menikmati indahmu. 
Itu yang selalu aku lakukan, tentunya tanpa sepengetahuanmu.
2.        
Jika aku nanti menghilang, apa kamu juga akan menghilang?
3. 
 Aku hanya suka seperti ini. Diam-diam mengaggumimu. Diam-diam mengikutimu. 
Diam-diam merekammu. Diam-diam memotretmu. Diam-diam JATUH CINTA PADAMU.
4.       
Meski tak saling bertemu tapi aku dan kamu bukanlah hal yang semu.
5.     
 Masih diruang yang sama, menikmatinya karena mu.
6.  
Sebatas apa kamu bisa mengingatku? 
Kalau aku jangan ditanya. 
Selagi angin masih berhembus, dan selagi hujan membasahi bumi. 
Sepanjang itulah aku mengingatmu.
7.       
You’re the one. And always will.
8.     
 Ada hati yang akan selalu bercerita tentang kamu, dengarkanlah.
9.     
 Hanya antara kamu dan hujan akan selalu ada rindu disetiap riak yang terbentuk setelahnya.
10.  
 Katakan jika kamu sudah menemukannya. Nanti.
11.   
 Masih selalu kamu meski tak tersentuh.
12.    
 Salahkah aku jika menggilaimu? Selama aku masih memiliki ingatan tentangmu.
13.  
 Like a soulmate but never met.
14.    
Apa kamu punya harapan tentang pertemuan ini?
15.  
Kamu tahu? Mendengarmu saja sudah lebih dari cukup untukku. 
Apa lagi nanti, jika kita bertemu.
16.  
Akan selalu seperti itu. 
Yaa, diruangan itu hanya disitu aku bisa melihat dan mendengar semua tentang mu.
17.    
Cukup. Sampai disini. Bukan tak ingin melanjutkan, hanya saja. Aku ingin berhenti disini.
18.    
And it’s all about the way I’m to remember you.

My own world


Bumi Padang sore ini kembali dihujani, dan aku berjalan di bawah tetesan-tetesan itu. Hmm.. entah apa yang membuatku senang ketika hujan. Dan satu hal yang membuatku senang, jalan setapak yang selalu kutempuh itu sunyi. Tak terlihat seorang pun. Sekali lagi yang hanya ada aku, kesendirianku dan tetesan dari langit yang membuatku tersenyum sambil mengangkat kedua tanganku sambil memejamkan mata sejenak. Dan…………… saat itu aku merasakan kehadiran kamu lagi.
Kembali kesendirianku membawamu hadir disini. Dengan nyata senyumanmu kulihat, tawamu yang khas terdengar. Di bawah tetesan itu ada harapan, harapan yang selalu ku harapkan kelak akan menjadi kenyataan. Tolong, kamu jangan pergi lagi. Tetap lah disini bersamaku, dan tetap lah memegang tanganku sekalipun aku tersadar.
Ya kamu, aku hanya bisa mendambamu dari sini, mengagumimu dari sisi ku yang tak pernah terjamah oleh mu, begitupun sebaliknya. Ya kita sama-sama berada di ruang yang berbeda.  Dalam setiap percakapan singkat aku hanya ingin mendengar tentang kamu, bagaimana dengan hari yang telah kamu lalui, kejadian apa yang kamu alami saat bekerja, selalu banyak hal yang ingin kuketahui tentang kamu.
Aku tahu kamu pasti membaca ini, yaa walau mungkin kamu menganggap hal ini biasa saja atau malah tak tahu harus berbuat apa. Tapi…. Ini lah aku, dengan begini aku akan selalu mengingatmu. Dan tulisan ini kelak akan menjadi bagian masa lalu yang akan kita kenang.
Apa langit di tempat mu juga mendung seperti disini…?? Atau bahkan sudah lebih dulu dibasahi hujan?? Akan selalu ada cerita tentang mu dalam kesendirianku. Mimpi, berkhayal…???? Itu sudah makanan sehari-hari dalam  setiap waktu dalam sendiriku.
Hujan sore ini memberi ku waktu yang banyak dengan kesendirianku, aku dapat berlama-lama bercengkrama denganmu disini, ya disini. Tolong jangan pergi, sekali pun hujan ini mereda, tetaplah disini. Aarrrggggghh…….. Rasanya tak ingin kutersadar dari lamunan ku sore ini di bawah hujan yang selalu mengingatkan ku tentang mu.
Dia adalah kesendirianku, yang memberikan ku kenyamanan, yang membuatku tersenyum sekalipun aku tak melihatnya. Dia adalah kesendirianku, namun dia mampu untuk tak membuatku merasa sendiri. Dia adalah kesendirianku yang mampu membuatku tersenyum sekalipun dia tak terlihat. Dia adalah kesendirianku dan mampu membuatku merasa sempurna. 


#Repost

Jumat, 28 Desember 2012

Seharusnya memang begitu.


here
Dear you,

Apa kabarmu? Sehat?

Hmmm… Rasanya kebiasaan ini sudah lama aku tinggalkan, sejak hari itu. Ya, kebiasaan mengingat, membayangkan lalu menuliskan setiap detail tentangmu. Tentangmu yang selalu menjadi canduku untuk tetap melakukannya tanpa ada alasan untuk berhenti, dulu. 

Kamu tahu bagaimana perasaanku ketika aku memulainya kembali?

Memulai sesuatu yang telah lama aku tinggalkan. Bahkan aku pernah berfikir untuk tidak melanjutkan bahkan nyaris untuk tidak membukanya lagi. Sesuatu yang benar-benar ingin aku tinggalkan. Seperti kamu meninggalkan ruang yang telah lama aku persiapkan untuk kamu masuki dan kamu tempati. Ruang yang hanya kamu ketuk dari luar tanpa masuk sama sekali, lalu pergi. 

Rasanya berat. Sangat berat. Mencoba, lagi, dan lagi. Lelah. Seharusnya aku tidak harus seperti itu. Seharusnya aku bisa tetap melakukan hal ini tanpa harus menuliskan tentang kamu. Tanpa kamu yang selalu menjadi stimulusku. Tapi sayang itu hanya “seharusnya”. Seharusnya yang tidak terlaksana sama sekali. Seharusnya yang berhasil membuat keinginan itu mati. 

Ya, kamu berhasil membuat hati ini mati, dan juga mematikan ideku untuk menuliskan hal yang selalu aku lakukan untukmu, dulu. Dan sekali lagi tak seharusnya begitu.

Dan aku menyadarinya. Sangat sadar bahwa aku bergantung pada keberadaanmu saat itu. Kamu benar-benar menjadi candu, dulu. Banyak hal yang bisa aku tuliskan untukmu, dulu. Sebelum aku merasakan sesuatu yang membuat hatiku mati.

Aku harus membangun lagi hati itu sendiri. Tanpa kamu. Ya memang seharusnya seperti itu, bukan? Membangunnya untukku sendiri. Lalu kembali melakukan hal yang sempat terhenti karenamu. Melakukan hal yang memang aku senangi, bukan karena ada kamu dibalik itu, dan seharusnya begitu.

Memang keadaan tak mungkin sama lagi. Tapi setidaknya aku akan tumbuh dengan hati yang baru. Tetap melakukan hal yang aku senangi dulu dan menanggalkan semua hal yang dulu menjadi penyemangatku. Seharusnya begitu, seharusnya aku sendiri yang harus menciptakan bahagia, suka, dan semangat itu sendiri bukan berasal dari kamu.

Dulu yang kupikir “kita” ternyata bukan. Hanya ada aku, aku dan aku. Kamu tidak pernah membayangkannya bukan?

Ahh, sungguh menyenangkan, dulu. Dan sekarang akan lebih menyenangkan. Belajar mendewasakan hati (kata seorang sahabat untukku). Ya aku bisa dan memang seharusnya begitu #sigh and then I’m smile.

Dan sekarang aku mencoba mengumpulkan puing kesenangan yang sebagian telah hilang. Mencoba merawatnya berharap kembali tumbuh dan utuh. Dan menciptakan sosok “seperti kamu dipikiranku”. Sosok yang selalu ada tanpa aku menyapanya lebih dulu. Berbincang dengannya tanpa harus bersuara. Dia ada dipikiranku saat ini dan dia jauh lebih peka dari kamu. Itu yang aku tahu.



 

#belajar banyak dari kamu. Dan itu cukup.