Jumat, 22 Juni 2012

AKU DAN KAMU UNTUK SUATU WAKTU


Malam itu aku dan kamu kembali bertemu dalam ruang tanpa dimensi. Menunggu pagi, saling berbagi. Tak terasa ini sudah 1 minggu aku melewati malam denganmu. Begitu cepatnya waktu berlalu, hingga peralihan langit malam bergantikan dengan langit fajar tak kita rasakan.

 Bercerita tentang apa saja, walau tak ayal kamu yang lebih sering mendengarkan celotehanku. Aku tertawa, kamu tertawa, dan KITA tertawa. Aku diam, kamu diam, dan KITA diam. Setelah itu suaramu, suaraku memecah keheningan “Kenapa diam?” seperti biasa kita kembali tertawa kecil setelah sama-sama melontarkan pertanyaan itu. 

Aku diam, namun dalam hati tidak. “Aku tidak diam, hanya saja aku membayangkan kamu benar-benar ada disini. Atau aku berada disana, kita bertemu, saling menatap, saling tersenyum. Hal itu yang ku bayangkan” aku membatin dalam hati. Apa khayalan ku terlalu tinggi? Untuk sekedar merasakan waktu bersamamu, lebih dekat.

Dalam diam kembali berfikir. Lalu suara khas mu memecah kembali diseberang sana “Hmmm…. Kenapa kembali diam?” “Gak” sergahku singkat. Kita melanjutkan, kamu bercerita tentang pekerjaanmu, temanmu, keponakanmu yang lucu, keluargamu. Dan aku, bercerita tentang perkuliahanku, teman-temanku, keluargaku, dan DIA (itu karena kamu yang menanyakannya, lebih dalam.) Pekerjaanmu yang sedikit mengalami masalah, dan menjadi celetukan khas diantara kita. “LAPAN” imbuhmu…. Lalu dengan bingungnya aku bertanya “mmm.. Lapan??” “Lah Paniang (pusing)”, hahahahahhaha” kamu tertawa, lalu aku juga ikut tertawa. Semoga keadaan “LAPAN” itu cepat berlalu. Dan suara tawa kita berdua memecah sunyi malam. Bercerita tentang hobi masa kecilmu dan temanmu yang suka pergi memancing. Tentang sikapmu yang diam-diam memperhatikan pembicaraan antara kakak-kakakmu(aku membayangkan gimana pikiranmu saat itu mencoba mencerna setiap kata yang tidak kamu mengerti). Tentang ketidaksukaan mu terhadap daging yang bisa membuat kondisi tubuhmu tidak nyaman dalam beberapa hari. Tentang kotamu, hobby mu yang juga suka maen PB. Aku mengingatnya.

Dan saat ini aku dan kamu telah memiliki 33 kata gombalan yang kita rangkai setiap kita melewati malam. Aku menuliskannya, menyimpannya dan membacanya. Membuat ku tertawa. Setidaknya ada sesuatu yang dapat aku nikmati saat aku dan kamu tidak sedang dalam dimensi yang sama.

Terima kasih “Ji”untuk setiap waktu yang pernah ada hingga saat ini. Terima kasih “Ji”untuk setiap rasa yang kamu miliki, yang ternyata sama dengan apa yang kurasa. Terima kasih “Ji”untuk hujan yang tak pernah membiarkan bumi mengering. Terima kasih “Ji” untuk setiap rindu yang pernah kamu rasa. Terima kasih “Ji” untuk kejujuran yang kamu katakana malam itu. Terima kasih “Ji” untuk rasa yang telah kamu tempatkan dihatimu walau sedikit ruang untukku. Setidaknya aku jadi tahu, bahwa aku tak sendiri. Aku tidak sedang bermimpi. Aku tidak sedang berkhayal. Kamu nyata “Ji” tak hanya hadir didalam angan, namun jejak mu sudah lama ada disini. Memiliki tempat tersendiri, yang aku sendiri tak mampu untuk menjelaskannya. Ku harap kamu tahu itu “Ji”

Bagaimana ya nanti kalau suatu waktu aku dan kamu benar-benar bertemu? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa akan seperti ini? Atau… aku tak berani untuk membayangkan. Takut hal indah itu musnah dalam hitungan detik. Lebih baik aku tidak memikirkannya, begitu juga dengan kamu bukan? “Biar waktu yang menjawabnya” imbuhmu. “ya, biar waktu yang membawa kita” kembali membatin sambil tersenyum. Tak tahu kenapa, saat kamu berkata seperti itu aku memiliki harapan tentang waktu. Berharap waktu itu mau menunggu dan menyambut langkahku, dan tak membirkannya berlalu.


hingga semuanya akan menjadi nyata, lebih dekat, dan lebih jelas pada suatu waktu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar