Jumat, 08 Juni 2012

Aku mengikuti jejakmu dalam diam

this pict from here
Hai jiwa pemilik rindu. Apa kabar kamu?

Masihkah pada rindu yang sama? Masihkah pada ruang yang sama?

Aku mengikuti jejakmu dalam diam. Hilang sesaat bukan berarti aku tak memperhatikanmu. Hanya saja aku melakukannya diam-diam. Kali ini dalam bayang. Kenapa dalam bayang? Karena bayang mampu menggambarkannya dengan sempurna. Pantulan apapun itu. Bayang tak pernah berbohong terhadap apa yang ia pantulkan. Hanya saja itu tergantung visual kita yang menangkap. Begitu pula aku melakukannya untuk kamu, wahai pemilik hati. Semoga kamu mengerti.

Aku mengikuti jejakmu dalam diam. Semoga saja kamu tidak menyadari. Karena aku suka begini. Tak ingin kamu tahu. Semoga saja kamu tak mencari. Karena aku selalu mendatangimu. Berdiri dekat denganmu. Sampai-sampai aku selalu hafal dengan setiap detailmu.

Aku mengikuti jejakmu dalam diam. Dalam hujan kamu tertawa senang, bahkan tersenyum. Aku melihatnya. Ketika jemarimu menyentuh bulir demi bulir tetesan itu. Lalu tertawa. Aahh, aku menikmati tawamu. Aku tahu kamu menyukai hujan. Benar bukan? Buktinya kamu tidak menyadari keberadaanku yang mengikutimu. Aku tahu bayang tak dapat hadir saat hujan turun. Hanya berupa bias-bias yang tak jelas keberadaannya. Tapi aku dekat denganmu.

Aku mengikuti jejakmu dalam diam. Bukannya aku ingin menakutimu. Hanya saja aku tak ingin terungkap. Melihatmu dari sudut hatiku saja sudah menyenangkan. Apa lagi nanti bisa kamu temukan aku. Itu lebih dari menyenangku, untukku. Aku tak ingin terlihat. Aku hanya ingin untuk diingat. Kapanpun dan dimanapun kamu berada. Bahwa aku selalu ada mengikutimu. Bahkan ketika kamu menangis bersama hujan. Aku melihatnya, aku menemanimu. Hanya saja keberadaanku tak terungkap. Bisa kamu rasakan, aku?

Aku tak lebih dari sebuah bayangan yang tak dapat kamu rekam. Tapi aku ada untuk kamu. Menemani, bahkan selalu ada bersamamu. Hanya saja kamu tidak pernah memperhatikan aku. Melewati semua tentangku. Tak apa. Aku hanya bayang yang sesaat saja dapat hilang. Jika kamu inginkan aku untuk menghilang.

3 komentar:

  1. kadang harus diam dan hidup dalam bayangan saja itu menyakitkan tapi apabila hanya itu pilihannya mungkin saya kan mencobanya walo hanya diam dan bayang saja. walo nanti setelah dia merasa terganggu dengan segala detail bayangan ini dan mengusir bayangku untuk pergi tak masalah asalkan saya sudah merasa ternyata jadi bagian dari bayangnya itu seperti ini rasanya :)

    nice kakak, suka :)

    BalasHapus
  2. seperti udara yang selalu ada, mengikuti dan memfasilitasi tanpa pamrih, tapi.. kalau seseorang seperti ini rasanya sedih sekali, cuma hanya bisa mengikuti dalam diam tanpa benar2 masuk ke kehidupan orang yang dipujanya, nice posting :)

    BalasHapus
  3. @ Nisa n @NF... Makasih lg utk kunjungannya :D
    Iya, sakit. Tapi memiliki rasa yg luar biasa dalam diam. Begitu saja sudah menyenangkan, apa lagi nanti jika terungkap. Si bayangan masih bisa menguasai diri, mengamati, merekam, mengikuti jejak itu dalam diam.

    BalasHapus